...

Orientasi Nilai Budaya Banyumas - Universitas Gadjah Mada Online

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Orientasi Nilai Budaya Banyumas - Universitas Gadjah Mada Online
Humaniora, Vol. 20, No. 2 Juni 2008: 158-167 HUMANIORA
VOLUME 20
No. 2 Juni 2008
Halaman 158-167
ORIENTASI NILAI BUDAYA BANYUMAS:
ANTARA MASYARAKAT TRADISIONAL DAN
MODERN
Sugeng Priyadi*
ABSTRACT
This research aims at finding out the human value of Banyumas people as expressed in Babad Pasir.
To achieve this aim, the history method is employed in four steps, (1) heuristic, (2) criticism, (3)
interpretation, and (4) historiography. The historical facts which are interpreted are those mental ones
so that the resulting historiography reflects Banyumanese ideas as the realization of the Banyumas
cultural value system.
The results of the research show that Babad Pasir tends to presents internal conflicts, while Babad
Banyumas is marked more with ascetism. However, both of them show a paradox between positive and
negative values. The relation between the positive values as the thesis and negative ones as the antithesis
resultsinasynthesisintheformof cablaka (straightforwardness) as the value system of the Banyumas
culture. Based on the system it can be seen that the orientation of the value is toward both traditional
and modern society. Banyumas people tend to look at the past, but have the ability to see the future as
a reference in facing the challenging world.
Key Words
Words: nilai-nilai masyarakat, paradoks, asketisme, masyarakat tradisional dan modern.
PENGANTAR
Teks Babad Pasir tidak hanya merupakan
dokumen kebudayaan masyarakat Banyumas,
melainkan juga monumen masa lampau yang
tidak mungkin dapat dilepaskan dari berbagai
kajian tentang Banyumas. Tradisi besar babad
tersebut senantiasa menghidupkan kembali jiwa
masa lampau untuk dihadirkan dalam suasana
yang berbeda ketika mereka diciptakan. Ada jarak
waktu, kondisi sosial-budaya, para penulis babad
dengan sekarang. Namun, justru kehadiran kedua
teks tersebut merupakan aktivitas pembacaan
terhadap monumen masyarakat Banyumas yang
sarat dengan muatan nilai-nilai yang mungkin
memiliki relevansi dengan masa sekarang.
* Staf Pengajar Universitas Muhammadiyah, Purwokerto
158
Babad Pasir merupakan warisan pergulatan
pemikiran manusia Banyumas yang tampaknya
cenderung kontroversial atau paradoksal. Pada
posisi tersebut memang telah memungkinkan
manusia Banyumas melakukan justifikasi terhadap pihak yang lain, yang kemudian disusul
dengan justifikasi kepada diri sendiri atau bahkan
tidak ada justifikasi, tetapi yang ada hanyalah
unsur penyeimbang di antara nilai-nilai masyarakat Banyumas. Nilai-nilai yang paradoksal itu
agaknya menjadi satu ciri yang penting untuk
menilai perilaku masyarakat Banyumas, baik
dalam perspektif masa lampau maupun masa
kini.
Sugeng Priyadi - Orientasi Nilai Budaya Banyumas: antara Masyarakat Tradisional dan Modern
Benturan antara nilai-nilai paradoksal telah
menghasilkan suatu sintesis yang cukup mantap
dalam kehidupan kebudayaan manusia Banyumas, yaitu cablaka. Kiranya, cablaka tidak hanya
menjadi pusat karakter manusia Banyumas,
tetapi juga menjadi sumbu dari nilai-nilai tersebut.
Bagaimanapun juga suatu nilai akan mendasari
perilaku atau karakter manusia. Cablaka telah
menempatkan dirinya sebagai hasil sintesis
antara tesis dengan antitesis sehingga terdapat
keseimbangan nilai. Nilai cablaka menjadi titik
pusat sistem yang berinteraksi dengan komponen-komponen lainnya. Keseimbangan nilai dan
sintesis masyarakat Banyumas itu sesungguhnya bertujuan untuk menjaga keserasian kosmos. Situasi goyah, kacau balau, tidak berbentuk
itu harus disingkirkan dengan sintesis dari nilainilai paradoksal tersebut.
Keserasian kosmos memang menjadi tujuan utama yang harus diraih karena bagaimanapun sesuatu yang paradoksal tidak selalu diperuncing dalam bentuk benturan fisik yang
terlalu keras. Benturan pemikiran pun lebih krusial
karena pengalaman-pengalaman yang dilalui
secara bersama-sama sebagai suatu komunitas
akan memantapkan suatu nilai itu dapat diterima
secara umum atau ditolak. Nilai cablaka menjadi
titik pusat sistem budaya. Artinya, cablaka dianggap sebagai suatu nilai yang sangat berharga
dalam kehidupan sehari-hari manusia Banyumas. Maka dari itu, cablaka menjadi identik
dengan sistem nilai budaya lokal masyarakat
Banyumas.
Untuk membangun pengertian sistem nilai
budaya Banyumasan, Babad Pasir tidak mungkin
diabaikan. Keduanya telah mendokumentasikan
nilai-nilai yang dianggap berarti dalam hidup pada
masa lalu dan selanjutnya dokumentasi itu tidak
hanya berhenti di situ, tetapi perlu dibangun
monumen nilai-nilai yang memiliki relevansi untuk
masa sekarang dan mungkin juga masa yang
akan datang.
Nilai-nilai masa lampau manusia Banyumas
memang telah mengalami suatu transformasi
budaya yang tidak mungkin dapat dielakkan
karena manusia selalu berinteraksi satu sama
lain secara terus-menerus sehingga tidak ada
gejala statis yang murni dalam kehidupan
kebudayaan. Kebudayaan senantiasa berubah
seiring dengan perkembangan pemikiran manusia. Pemikiran manusia menjadi tolok ukur apakah suatu kebudayaan itu maju atau tidak dapat
dilihat fenomenanya pada bentuk kebudayaan
berpikir. Berpikir merupakan suatu masalah yang
menunjukkan keeksistensian manusia pada
umumnya. Tidak semua orang tidak berpikir,
yang membedakannya adalah tingkat kecepatan
manusia berpikir. Faktor inilah yang menyebabkan suatu kebudayaan akan berkembang dengan
pesat atau tidak.
Manusia Banyumas dapat dikatakan sebagai makhluk yang disebut homo sapiens melalui
hasil-hasil pemikiran yang menjadi dokumen dan
sekaligus monumen. Bahasa merupakan faktor
terpenting sebagai alat komunikasi bagi manusia
yang berpikir. Bahasa dialek Banyumasan telah
ikut memberi sumbangan yang besar untuk
menopang kehidupan nilai-nilai paradoksal itu
hingga masa sekarang. Bahasa dialek Banyumasan adalah alat yang sangat efektif untuk
menjiwai karakter manusia Banyumas dalam
kehidupan sehari-hari yang dilandasi oleh sistem
nilai budaya cablaka. Cablaka memang suatu
alat untuk mengekspresikan bahwa manusia
Banyumas selalu menyatakan dengan tanpa
tedeng aling-aling meskipun juga telah mengalami transformasi dari nilai menjadi tokoh-tokoh
sebagaimana dicantumkan dalam kedua teks
babad dari tradisi besar pada masyarakat Banyumas.
Sebagai contoh adalah nilai cablaka. Nilai
tersebut dikarakterisasikan menjadi tokoh-tokoh
panakawan atau ksatria yang dinilai tidak memiliki
kemauan untuk berbahasa halus seperti Werkudara, Lingsanggeni, atau Antasena. Tokoh-tokoh
ini dinilai tidak memiliki etika dalam pergaulan,
tetapi sesungguhnya mereka adalah manusia
yang menunjukkan pemakaian bahasa yang tidak
dalam pengertian artifisial. Jadi, bahasa dialek
Banyumasan adalah fitrah atau karakter yang
sangat khas bagi tokoh-tokoh tertentu dalam
pewayangan gagrag Banyumasan.
159
Humaniora, Vol. 20, No. 2 Juni 2008: 158-167
Pada umumnya, teks-teks babad lebih
banyak menyodorkan fenomena personifikasi
nilai-nilai. Artinya, nilai-nilai itu dianggap sangat
berarti dalam hidup yang kemudian oleh
masyarakat pendukungnya diupayakan untuk
terus berlanjut dan lestari, maka cara yang sering
ditempuh adalah nilai-nilai itu diorangkan, atau
dimanusiakan agar hidup dan dianggap hidup.
Dengan demikian, personifikasi nilai-nilai itu pada
hakikatnya adalah memanusiakan nilai-nilai
sehingga nilai-nilai itu mempunyai ruh yang kuat
di hadapan masyarakat. Nilai-nilai itu akan
menjadi hidup sehingga manusia pada masa kini
sangat sulit untuk membedakan apakah nama
seseorang itu ialah nilai yang dimanusiakan
(personifikasi) atau manusia yang dinilaikan
(depersonifikasi).
Namun, nama orang adalah sebuah kata
yang tidak hanya memiliki arti, tetapi juga
bermakna. Pemberian nama kepada seseorang
merupakan cara orang untuk mendoakan atau
paling sedikit mengharapkan hal-hal yang baik
dalam hidup ini. Sebagai misal, orang Banyumas
memberi nama anaknya dengan nama
Tunggak. Kata ini dapat ditafsirkan sebagai
tonggak penting dalam kehidupan, baik bagi si
anak maupun orang tuanya. Tunggak juga dapat
diartikan sebagai batang pohon yang telah
ditebang. Tunggak pendek kata sama dengan
sisa. Namun, sisa itu menunjukkan eksistensi
masa lampau. Buktinya banyak nama tempat
atau toponim yang memakai nama pohon
tertentu.
Nama Tunggak yang kelihatan sepele itu
dapat memuat arti dan makna yang tidak diduga.
Kelihatannya kata itu tidak memiliki makna,
sangat terkesan sederhana, bahkan kelihatannya
hanya main-main belaka dalam proses pemberian nama. Itulah yang disebut dengan proses
depersonifikasi. Manusia yang dinilaikan atau
manusia yang menjadi nilai seperti Tunggak tadi
sebagai penerus kehidupan orang tuanya,
makanya kata nunggak semi merupakan
perwujudan pewarisan atau kelanjutan tradisi
atau dalam hubungan kekerabatan berarti
160
kerajaan itu telah diwariskan dari generasi ke
generasi.
Tarik-menarik antara personifikasi dengan
depersonifikasi dalam mempresentasikan
sebuah nilai sesungguhnya sama saja tujuannya, yaitu sebagai pernyataan untuk menyatakan
bahwa nilai-nilai tertentu mempunyai fungsi
dalam kehidupan masyarakat pada masa tertentu. Jika personifikasi memakai bentuk manusia
untuk melestarikan nilai-nilai, maka depersonifikasi merupakan upaya pelestarian perilaku atau
karakter manusia dalam bentuk nilai-nilai. Jadi,
pada hakikatnya kedua fenomena itu saling mengisi fungsi masing-masing dan seterusnya akan
menjadi dokumen dan monumen sekaligus.
Metode yang ditempuh dalam penelitian ini
adalah metode sejarah yang terdiri dari empat
langkah, yaitu (1) heuristik, (2) kritik (verifikasi),
(3) Interpretasi (Penafsiran), dan (4) Penulisan
Sejarah (Notosusanto, 1978:35-43 bdk.
Gottschalk, 1983:34 dan Kuntowijoyo, 1995:89105). Langkah heuristik (pengumpulan sumber)
sudah dilakukan pada penelitian filologi dengan
mengumpulkan naskah-naskah yang berasal
dari lokal Banyumas dan sekitarnya. Selain itu,
naskah-naskah yang telah tersimpan pada
koleksi-koleksi perpustakaan juga dilakukan
dengan cara menelusuri katalog-katalog yang
sudah diterbitkan. Begitu pula dengan langkah
kritik yang terdiri dari kritik ekstern dan kritik intern.
Kritik ekstern telah dilakukan ketika peneliti
mendeskripsikan naskah, sedangkan kritik intern
ketika peneliti melaksanakan kritik teks dengan
membandingkan seluruh teks. Dengan demikian,
telah didapatkan fakta yang berupa fakta mental
atau kejiwaan (mentifact) yang dikandung teksteks Banyumas tersebut. Karena tujuan penelitian
yang ketiga berusaha untuk menghasilkan
sistem nilai budaya lokal Banyumas (sejarah ideide), maka kritik teks lebih dipertajam sehingga
interpretasi terhadap fakta mental yang dihasilkan pada langkah yang ketiga ini lebih maksimal.
Tujuan penelitian ini berkisar pada sejarah
nilai yang termasuk pada kawasan sejarah ideide. Oleh karena itu, pada langkah interpretasi
Sugeng Priyadi - Orientasi Nilai Budaya Banyumas: antara Masyarakat Tradisional dan Modern
terhadap fenomena sejarahnya, khususnya
mentifact diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang latar belakang sosial-budaya
masyarakat Banyumas karena karya historiografi
tradisional sering cenderung mengaburkan dua
macam realitas sejarah, yaitu realitas yang
objektif terjadi dan realitas yang riil dalam diri. Yang
pertama adalah fakta yang merupakan pengalaman yang aktual, sedangkan yang kedua adalah
fakta yang berupa penghayatan kultural kolektif
oleh masyarakat pendukung atau pewaris karya
babad tersebut (Abdullah, 1985:22-23).
Penghayatan kultural kolektif menjadi penting
manakala peneliti berusaha memahami makna
pada teks-teks lama karena setiap peristiwa itu
selalu dimaknai oleh masyarakat sebagai
penghargaan kepada nenek moyangnya
sehingga terjalin menjadi pandangan dunia yang
utuh (Abdullah, 1985:24). Pemaknaan terhadap
suatu peristiwa itulah yang dimengerti dan
dipahami oleh masyarakat sebagai suatu realitas
yang baru sehingga dapat terjadi perubahan
bentuk realitas (metamorfose) pada peristiwaperistiwa, nilai-nilai, dan tokoh-tokoh (bdk. Van
Peursen, 1990: 58).
Di sini, dapat terjadi proses personifikasi,
yaitu perubahan dari ide, nilai, dan norma menjadi
tokoh historis (Abdullah, 1985:26) atau penokohan seperti yang terjadi pada karya sastra, atau
sebaliknya terjadi depersonifikasi dari tokoh
sejarah menjadi ide, nilai, dan norma. Perubahan
bentuk yang pertama tersebut dimaksudkan
untuk melestarikan nilai-nilai yang berlaku pada
periode tertentu untuk periode berikutnya dengan
cara mengkultuskan individu yang disebutkan
sebagai tokoh. Namun, pada periode selanjutnya
dapat saja nilai-nilai yang diakui sangat berarti
dalam hidup itu mengalami pergeseran. Perubahan bentuk yang kedua ditujukan untuk
meneruskan prestasi manusia masa lampau
untuk kalangan manusia masa yang akan
datang. Namun, di sini diusahakan untuk dihindari
gejala kultus individu terhadap tokoh yang
dinilaikan itu. Selanjutnya, hasil interpretasi
tersebut disajikan pada langkah terakhir dalam
bentuk karya sejarah berupa sejarah ide-ide
Banyumas.
ORIENTASI NILAI BUDAYA BANYUMAS
Cablaka sebagai sistem nilai budaya lokal
menyangkut soal-soal yang paling besar nilainya
dalam hidup (Koentjaraningrat, 1987:25)
masyarakat Banyumas yang telah berlangsung
ratusan yang lalu. Soal-soal tersebut pada
hakikatnya secara universal selalu ada di seluruh
kebudayaan di dunia, termasuk Banyumas, yang
berisi minimal lima hal seperti yang dinyatakan
oleh Kluckhohn dan Strodtbeck (1961:12) dalam
bukunya yang berjudul Variations in Value
Orientation, yaitu (1) makna hidup manusia, (2)
soal makna dari pekerjaan, karya, dan amal
perbuatan manusia, (3) persepsi manusia
tentang waktu, (4) soal makna hubungan
manusia dengan alam sekitarnya, (5) hubungan
manusia dengan sesama manusia. Lima
konsepsi di atas merupakan isi sistem nilai
budaya yang memberi pemecahan terhadap
masalah yang bernilai dalam hidup (Koentjaraningrat 1990:78) masyarakat Banyumas, baik
yang tampak pada masyarakat tradisional
maupun masyarakat modern seperti tampak
pada Tabel berikut ini.
161
Humaniora, Vol. 20, No. 2 Juni 2008: 158-167
Tabel Orientasi Nilai Budaya Banyumas
Makna hidup manusia yang terkait dengan
masyarakat Banyumas memandang bahwa
hidup itu penuh dengan keprihatinan, ditentukan
oleh nasib, dan manusia harus menyadari akan
dirinya (eling) sehingga kecenderungan untuk
melakukan tapa brata atau asketisme seperti
yang dilakukan oleh Kamandaka (Banyak Catra).
Selain berpandangan tradisional, masyarakat
Banyumas juga berpandangan modern bahwa
hidup itu merupakan sumber kesenangan, indah,
162
dan bermakna sehingga manusia itu harus
berupaya sendiri dengan keras. Pandangan tersebut menyatakan bahwa Kamandaka berusaha
sendiri untuk mencari calon istri yang mirip
dengan ibu kandungnya dengan cara menjadi
maling julig, bertapa, berubah menjadi Lutung
Kesarung, dan merencanakan pembunuhan
terhadap Raja Pulebahas dari Nusakambangan.
Upaya itu mencapai keberhasilannya dengan
merebut dan menikahi putri Pasirluhur, Dewi
Sugeng Priyadi - Orientasi Nilai Budaya Banyumas: antara Masyarakat Tradisional dan Modern
Ciptarasa. Walaupun keberhasilan itu menjadi
faktor kegagalan dalam merengkuh tahta
Pajajaran, tetapi Kamandaka atau Banyak Catra
dijadikan pengganti kedudukannya sebagai
adipati Pasirluhur. Jadi, di satu sisi upaya itu
menyebabkan kegagalan di negeri sendiri, di sisi
lain berbuntut keberhasilan di negeri orang. Apa
yang diperoleh Banyak Catra merupakan
sesuatu yang bernilai karena idaman atau citacita menyunting gadis yang mirip dengan ibunya
itu berhasil meskipun disertai dengan kegagalan
seorang putra mahkota menduduki tahta Pajajaran. Namun, ketika Banyak Catra kehilangan tahta
Pajajaran itu telah digantikan dengan tahta yang
lain, yakni tahta Pasirluhur.
Banyak Catra sebagai orang luar yang
mencari perempuan yang mirip dengan ibunya
itu tidak didapatkan di Pajajaran, tetapi justru
ditemukan di Pasirluhur. Ternyata cinta Banyak
Catra itu tidak bertepuk sebelah tangan karena
Putri Bungsu adipati Kandha Daha itu juga tidak
pasif, bahkan dapat dikatakan cukup agresif
dengan mengundang Banyak Catra yang
menyamar dengan nama Kamandaka itu ke
taman sari. Apa yang dilakukan oleh Ciptarasa
merupakan cara yang menyerempet bahaya
karena Kamandaka menjadi seorang terdakwa
maling julig, yaitu maling yang tidak mencuri harta
kekayaan, tetapi hati sang putri. Akibatnya,
Kamandaka menjadi manusia buron yang
mengalami usaha pembunuhan berulang-ulang.
Kabar kematian Kamandaka yang tenggelam
dalam sebuah lubuk atau terbunuh oleh Silihwarni
dengan bukti hati dan darah tidak menggoyahkan
cinta Ciptarasa. Namun, selanjutnya dengan
muncul kabar bahwa ia masih hidup terus
mempersubur rasa cinta itu. Sebaliknya, Kandha
Daha merasa tertipu luar dan dalam karena ia
ternyata hanya makan hati dan darah anjing,
bukan darah dan hati Kamandaka yang sangat
dibencinya. Kandha Daha memandang bahwa
Kamandaka itu berlaku seperti anjing, tetapi
umpatan itu dibalas dengan tipuan yang dilakukan
oleh Siliuhwarni atau Gagak Ngampar (adik
Banyak Catra). Dengan demikian, upaya keras
Banyak Catra atau Kamandaka untuk memperoleh calon istri menjadi sesuatu yang bermakna
itu bertemu dengan cinta dan kesetiaan Ciptarasa
yang juga bermakna.
Banyak Catra atau Kamandaka melanggar
tabu pernikahan dengan wanita Jawa itu
merupakan kepuasan terhadap kualitas hasil
kerja. Tabu sering hanya merupakan mitos yang
mengungkung kreasi masyarakat pada masa
lalu. Ketika orang melakukan pelanggaran dan
mendapat hukuman secara sosial, tetapi ia tidak
mendapatkan akibat yang buruk, maka orangorang lain akan melakukan penilaian kembali
terhadap tabu yang sudah dimitoskan. Di sini,
telah terjadi pergeseran dari mitos menuju
fenomena ilmiah. Mitos itu mungkin secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit akan
ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya,
atau bahkan mungkin masih tetap dilestarikan
karena orang tidak mempunyai keberanian untuk
melanggar. Banyak Catra adalah contoh manusia yang mencoba meninggalkan mitos yang
sudah diyakini ratusan tahun oleh masyarakatnya
dan orang tidak ada yang mempertanyakan
kembali atau mengkritisi fenomena tersebut. Hal
itu memang mencerminkan masyarakat yang
mengalami kemandekan. Sebaliknya, kecerdasan individual Banyak Catra akan mengurangi
keampuhan mitos itu di mata masyarakat,
minimal pada keturunannya.
Perubahan atau pergeseran dari mitos ke
logos (ilmiah) berdasarkan pengalaman pada
hakikatnya sama dengan perkembangan kognitif
homo sapiens sebagai momentum berubahnya
mitos menjadi logos, yang dilanjutkan dengan
terbentuknya etos, yaitu suatu kompleksitas sikap
berdasarkan nilai-nilai yang menentukan totalitas
kebiasaan pada komunitas tertentu (Kartodirdjo,
1999:120). Pelanggaran Banyak Catra telah
mengubah mitos menjadi logos, dan menciptakan etos bahwa mengawini wanita kaluaran dan
wanita Jawa (keturunan Majapahit) bukan
merupakan gejala yang berakibat buruk, tetapi
upaya untuk dapat bekerjasama dengan orang
lain dari berbagai komunitas. Tabu nikah itu
sesungguhnya merupakan pembatasan gerak
dan kreativitas manusia jika diikuti secara
membabi buta.
163
Humaniora, Vol. 20, No. 2 Juni 2008: 158-167
Manusia Banyumas mengacu kepada
kejayaan masa lampau, khususnya Pajajaran
dan Pasirluhur. Kejayaan itu berkaitan dengan
bersatunya keturunan Pajajaran dan Pasirluhur
yang menciptakan dinasti baru Pasirluhur
dengan simbol binatang totem angsa atau
banyak. Bagi orang Banyumas, binatang totem
ini dijadikan tabu untuk dibunuh dan dikonsumsi
karena nenek moyang mereka mengacu kepada
masa lalu yang berkaitan dengan masa kini.
Begitu pula dengan tabu Banyak Thole yang
melarang orang Pasir untuk mengambil seorang
paman sebagai patih. Tabu tersebut juga didasari
oleh pengalaman yang ditemui ketika pamannya
yang bernama Wirakencana itu berkhianat
kepadanya dan lebih setia kepada Sultan Demak.
Bagi Thole, pengkhianatan pamannya merupakan kunci kekalahan yang nyata karena keberhasilan Demak itu merupakan kontribusi Wirakencana yang tidak dilupakan sehingga berdasarkan pengalaman seorang paman itu mengkhianati kemenakannya dengan alasan perbedaan keyakinan mereka. Jadi, pengalaman hidup,
terutama pengalaman buruk yang dialami Thole
menjadi catatan pribadi yang penting selalu
diperhatikan agar tidak berulang dalam kehidupan
masa depan. Menabukan sesuatu berdasarkan
pengalaman buruk dapat dipandang sebagai
inovasi, tetapi dapat juga dipandang telah menciptakan kestatisan sejarah yang baru ketika
keturunannya cenderung tidak lagi mempertanyakan kembali asbabul nusul suatu fenomena
peristiwa sejarah. Tabu seringkali menjadi fenomena yang membatu karena orang-orang hanya
mengikutinya saja dan tidak mempermasalahkan pesan atau nasihat, serta hikmah yang
terkandung secara implisit di dalamnya. Setelah
Thole di Pasir tidak ada paman sebagai patih.
Manusia yang bijaksana selain cerdas
dalam melihat fenomena sejarah, juga kritis
dalam menganalisis situasi yang menyebabkan
peristiwa sejarah itu dapat muncul ke permukaan. Tabu yang dianggap baik pada masa
lampau atau masa kini, belum tentu baik untuk
kehidupan masa depan. Oleh karena itu, kalau
menabukan paman sebagai patih memang
164
terbukti karena si paman melakukan pengkhianatan. Namun, pengkhianatan itu tentu disebabkan
oleh banyak hal. Salah satunya adalah Banyak
Thole telah melakukan penghinaan secara
pribadi kepadanya sebagai orang yang tidak
jantan dengan ungkapan ora duwe konthol. Thole
jelas merupakan kemenakan yang tidak mempunyai etika yang baik kepada orang tua. Yang
paling hakiki adalah kemurtadan Thole yang tidak
dapat dimaafkan. Jadi, landasan Thole menabukan paman sebagai patih itu terdapat unsur
kebencian pribadi kepada pamannya. Padahal,
kebencian itu seyogyanya tidak baik dipakai untuk
melakukan sesuatu karena orang yang membenci sesuatu seringkali berbuat tidak adil kepada
orang lain atau sesuatu yang kita benci belum
tentu buruk bagi kita dan sesuatu yang kita
senangi belum tentu baik bagi kita sehingga di
sini juga banyak kemungkinan. Maka dari itu, perlu
ada keseimbangan dalam memposisikan antara
benci dan senang.
Sebaiknya orang bersikap untuk tidak terlalu
benci dan tidak terlalu senang terhadap sesuatu
sehingga ia dapat memberikan penilaian yang
tidak terlalu subjektif, baik itu terlalu positif maupun
terlalu negatif. Orang tidak boleh berlarut-larut
dalam kebencian karena rasa tersebut di samping melelahkan pikiran, juga merusak hati.
Ketika pikiran dan hati tidak dapat bekerjasama,
maka hati nurani kita menjadi mati. Akal budi
merupakan upaya untuk menyelaraskan kerja
antara otak dengan hati agar dapat diputuskan
sesuatu yang baik. Orang juga tidak boleh larut
dalam kesenangan karena orang akan cenderung menurun kewaspadaannya. Orang dapat
bersikap angkuh, sombong, atau tinggi hati dan
hal ini juga merusak hati. Kurang waspada dan
sombong merupakan faktor kehancuran manusia pada seluruh peradaban manusia di muka
bumi ini. Kurang waspada menyebabkan orang
tidak kritis. Sesuatu yang buruk kelihatannya baik
atau sangat baik, sebaliknya sesuatu yang baik
kelihatannya buruk atau sangat buruk. Kewaspadaan itu akan mempertanyakan apakah yang
kelihatan baik itu sungguh-sungguh baik atau
yang kelihatan buruk itu benar-benar buruk. Sikap
Sugeng Priyadi - Orientasi Nilai Budaya Banyumas: antara Masyarakat Tradisional dan Modern
kritis manusia itu akan bermuara kepada penyadaran bahwa kehidupan dunia ini penuh dengan
tipuan. Tipuan tersebut akan menjerumuskan
manusia ke jurang kehidupan yang merugikan,
baik dunia maupun akhirat.
Ketika manusia hidup di bumi, maka ia akan
selalu memandang langit sebagai satu-kesatuan. Langit dan bumi adalah pasangan yang tidak
dapat diabaikan karena manusia tergantung dari
situasi keduanya, bahkan rizki manusia dapat
diperoleh dari Yang Maha Kuasa melalui perantaraan langit dan bumi. Bumi adalah tempat kaki
berpijak, sedangkan langit merupakan harapan
dan cita-cita, serta arah untuk kembali ke asalmula. Dua pandangan ini memang harus direkam
dalam akal budi manusia. Bumi dan langit adalah
kunci manusia untuk memahami Sang Pencipta
melalui tiga tahap pemahaman, yaitu (1) lingkungan alam, (2) lingkungan sosial, dan (3)
lingkungan kultural. Pemahaman pertama adalah
terhadap langit dan bumi sebagai cikal-bakal yang
kita sebut sebagai alam. Pemahaman terhadap
alam semesta berarti harus mencari cara-cara
bagaimana manusia dapat menyesuaikan
dengan alam. Di sini, manusia tidak berusaha
untuk melawan alam karena menyadari berbagai
faktor kelemahannya. Cara yang lain adalah
dengan mencari sebab-sebab yang timbul, yang
mengakibatkan peristiwa alam itu terjadi sebagai
gejala alamiah.
Pemahaman dengan mencari keselarasan
dan keserasian antara manusia dengan alam
dilakukan oleh Kamandaka dengan DAS
Logawa-Mengaji. Pemahaman asketisme yang
dilakukan keduanya menunjukkan bahwa alam
semesta dapat dijadikan kawan yang baik dengan
cara tidak merusaknya. Selanjutnya, pemahaman alam semesta atau lingkungan alam akan
berlanjut kepada pemahaman yang kedua, yaitu
pemahaman lingkungan sosial. Komunitas atau
masyarakat selalu berinteraksi dengan alam
semesta sehingga akan dipahami bahwa
manusia itu mempunyai karakter yang dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Manusia
diciptakan sama oleh Yang Maha Kuasa, tetapi
ketika ia dilahirkan di berbagai tempat di penjuru
dunia, manusia itu akan tampil unik sesuai
dengan ia bertempat tinggal. Ketika manusia
kemudian saling berinteraksi untuk menghadapi
alam sekitarnya, tercipta kebudayaan yang khas
dari masing-masing masyarakat itu sehingga
pemahaman lingkungan sosial juga akan berlanjut ke pemahaman yang ketiga, yaitu lingkungan kultural yang jauh lebih unik.
Ketika manusia mencari keselarasan dan
keserasian dengan alam, ketiga pemahaman itu
harus diraih meskipun pengetahuan kita baru
pada tingkat penyesuaian atau di permukaan. Di
sini, aktivitas manusia lebih cenderung pasif
karena terpana dengan gejala-gejala alam yang
tidak dapat dilawan oleh manusia. Manusia hanya
mampu untuk tunduk dan mencari keselarasan
atau keserasian dengan alam sehingga peristiwa
alamiah dilihat selalu bermakna. Bagi manusia
yang berpikiran maju, aktivitas untuk tunduk dan
menyelaraskan diri dengan alam bukanlah
sesuatu yang memuaskan. Pengetahuan yang
hanya berkisar di permukaan harus diteruskan
untuk menjajaki rahasia-rahasia yang terwujud
pada ketiga lingkungan di atas.
Penjelasan hubungan antarsesama
manusia orang Banyumas dari berbagai periode
mengacu kepada tokoh-tokoh senior dan golongan sosial tinggi yang berbeda. Pada periode
Pasirluhur, Prabu Siliwangi menjadi tokoh penting
karena putranya yang bernama Banyak Catra
menjadi adipati Pasirluhur. Banyak Catra
(Kamandaka) menyunting putri Pasirluhur Dewi
Ciptarasa sehingga keturunan mereka dianggap
sebagai keturunan campuran antarsuku dan
antarbudaya.
Pada periode Demak, raja-raja yang sudah
memeluk Islam menjadi acuan bagi adipati
Pasirluhur Banyak Belanak dan patihnya yang
bernama Wirakencana, yaitu Sultan Patah dan
Trenggana. Tampaknya senioritas dan golongan
sosial tinggi menjadi acuan bagi manusia
Banyumas pada khususnya atau manusia Jawa
pada umumnya. Hal itu merupakan salah satu
ciri khas dari masyarakat yang masih menjunjung patronase (Legg, 1983:42-47; Mulder,
2001:84).
165
Humaniora, Vol. 20, No. 2 Juni 2008: 158-167
Prinsip patronase atau patron client adalah
raja atau orang yang berpangkat tinggi dianggap
sebagai pelindung bagi bawahan dan rakyatnya
sehingga hubungan mereka itu seperti seorang
ayah yang melindungi anak-anaknya. Suatu
prinsip yang sudah berumur cukup tua dan hal
itu sudah hidup di Jawa sebelum mendapat
pengaruh India ketika kepala desa pada masa
lampau itu dipilih oleh rakyat (anak wanua) berdasarkan prinsip yang terbaik di antara sesamanya atau primus interpares (Christie, 1989:5; Nas,
2007:281). Kriteria terbaik itu menyangkut
kemampuan, kesaktian, kekayaan, senioritas,
dan lain-lain sehingga layak menjadi pejabat rama
atau kepala desa. Selanjutnya, dari pejabatpejabat rama dari berbagai desa dipilih menjadi
raka atau raja Jawa (raja kecil). Pemilihannya
juga berlangsung secara demokratis karena
pada waktu sebelum Jawa Kuna itu sistem
dinasti belum masuk ke Jawa. Meskipun pemilihan kepala desa itu berlangsung secara demokratis, tetapi hubungan antara rakyat dengan
kepala desa menunjukkan hubungan patron
client yang lekat sekali. Di situ, rakyat memiliki
ketergantungan yang sangat besar kepada
patronnya sehingga menimbulkan efek yang
kurang baik karena rakyat akan cenderung
bertindak sendika dhawuh dan secara perlahanlahan kreativitias masyarakat menjadi lemah dan
mati.
Ketergantungan apa pun bentuknya merupakan kondisi yang memungkinkan munculnya
tindakan korupsi, kolusi, manipulasi, nepotisme,
dan efek-efek negatif lain pada kalangan orang
berpangkat, golongan sosial tinggi, atau senior
yang sedang memerintah. Memang ada persepsi yang berbeda antara masyarakat masa
lampau dengan masa sekarang. Apa yang
sekarang disebut korupsi, kolusi, manipulasi, dan
nepotisme sebagai suatu tindakan yang negatif,
pada masa lampau hal itu merupakan sesuatu
yang lumrah. Rakyat membayar upeti merupakan suatu kewajiban yang memang sudah
masuk dalam sistem birokrasi sama halnya
dengan kewajiban manusia modern membayar
berbagai macam pajak. Upeti pada masa
166
sekarang sudah masuk dalam katagori uang
haram atau uang suap karena tidak diatur seperti
halnya pajak dan si pemberi berharap akan
mendapatkan keuntungan. Jadi, upeti itu adalah
sistem perpajakan yang pernah hidup pada
masyarakat masa lampau dan sekarang
kedudukannya digantikan sistem perpajakan
yang dibawa orang Barat, khususnya Belanda
ke Indonesia. Akhirnya, upeti bergeser kedudukan
dari pajak resmi menjadi ilegal. Kiranya salah
satu efek negatif dari patronase adalah sistem
upeti yang ilegal itu menjadi suatu kebiasaan
pada masyarakat. Masyarakat dapat memperoleh keuntungan, tetapi dapat pula hanya
mendapatkan kebuntungan.
Efek lain adalah gangguan mental masyarakat terhadap ketergantungan yang mematikan
kreativitas. Rakyat tidak berusaha memecahkan
masalah yang dihadapi. Mereka selalu meminta
bantuan dan perlindungan dari orang kuat.
Orang-orang kuat yang baik tidak akan
menimbulkan persoalan, tetapi kalau orang kuat
itu adalah sejenis preman, maka dapat timbul
pemerasan terhadap orang-orang lemah.
Preman itu sering menarik pajak secara ilegal
yang lama-kelamaan dilegalkan. Dapat jadi pajak
resmi yang berlaku pada masa sekarang
merupakan penetapan yang dilakukan oleh
pemerintahan preman yang terorganisasi seperti
negara.
Dalam pemerintahan memang sering terjadi
tarik-menarik antara sistem yang berlaku dengan
pemimpin yang memerintah. Sering muncul
pertanyaan apakah sistem baik atau pemimpin
yang baik? Keduanya memang harus baik. Tidak
ada gunanya sistem baik, tetapi diselenggarakan
oleh pemimpin yang buruk, atau pemimpin yang
baik, tetapi menyelenggarakan pemerintahan
tanpa sistem yang baik. Jadi, harus ada keserasian sama baiknya antara sistem yang berlaku
dengan pemimpin yang menyelenggarakannya
sehingga penyimpangan dan penyelewengan
dapat dieliminasikan.
Nilai kemandirian orang Banyumas ditonjolkan oleh Banyak Thole dan Yudanegara IV.
Mereka berusaha keras untuk melepaskan diri
Sugeng Priyadi - Orientasi Nilai Budaya Banyumas: antara Masyarakat Tradisional dan Modern
dari kungkungan kekuasaan raja Demak dan
Kasunanan Surakarta. Banyak Thole mungkin
ingin mengembalikan kemerdekaan Pasirluhur
dari zaman Kandha Daha hingga zaman
sebelum ayahnya yang tidak terikat sebagai
bawahan. Ayahnya yang bernama Banyak
Belanak adalah adipati Pasirluhur yang menyatakan sebagai taklukan Demak ketika Islam datang
ke tanah Jawa (De Graaf, 1985: 73). Bagi Thole,
apa yang diperbuat ayahnya itu dianggap sebagai
tindakan yang memalukan sehingga Thole
membalasnya dengan tindakan yang kelihatan
sangat bengis dan kejam, yaitu mengubur hiduphidup ayahnya. Penguburan ayah oleh Thole
sebagai manifestasi ketidaksetujuan atas
keputusan pendahulunya untuk menghilangkan
atau menetralkan kesalahan. Thole juga mengembalikan dirinya ke alam Buddha sebagai
bentuk kontradiksi atau paradoksal eksistensi
Demak yang Islam. Kemandirian Thole ternyata
tidak mendapat sambutan hangat pamannya
yang berwarna Wirakencana yang cenderung
akomodatif kepada Demak. Gerakan separatisme Thole menemui kegagalan sehingga Thole
berke-dudukan sebagai orang yang kalah dalam
sejarah dan terusir dari tanah kelahirannya (De
Graaf & Pigeaud 1985:64).
SIMPULAN
Orientasi nilai budaya Banyumas menunjukkan bahwa masyarakat Banyumas dapat
menyesuaikan diri, baik sebagai masyarakat
tradisional maupun masyarakat modern. Ada
lima relasi manusia dengan makna hidup, kerja,
waktu, alam, dan sesama manusia. Pertama,
hubungan manusia dengan makna hidup sebagai
masyarakat tradisional, manusia Banyumas
cenderung hidup dengan keprihatinan, sedangkan sebagai masyarakat maju manusia Banyumas memandang hidup itu bermakna dan harus
berupaya sendiri. Kedua, pada hubungan manusia dengan kerja, manusia Banyumas di satu sisi
berpandangan bahwa bekerja untuk mencari
makan dan bereproduksi (tradisional), sedangkan di sisi lain mencipta karya-karya agung dan
kepuasan terhadap kualitas hasil kerja (maju).
Ketiga, hubungan manusia dengan waktu,
manusia Banyumas sebagai masyarakat tradisional lebih banyak mengacu pada kejayaan
masa lampau, tetapi juga mengacu ke masa
depan (maju). Keempat, relasi manusia dengan
alam, manusia Banyumas di samping mencari
keselarasan dengan alam (tradisional), juga
mencoba menjajaki rahasia-rahasia alam (maju);
dan Kelima, hubungan manusia dengan sesamanya, manusia Banyumas mengacu kepada
golongan sosial tinggi dan bergotong-royong
(tradisional), tetapi juga bersikap mandiri dan
maju.
DAFTAR RUJUKAN
Abdullah, Taufik. 1985. Sejarah Lokal di Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Christie, Jan Wisseman. 1989. “Raja dan Rama: Negara
Klasik di Jawa,” dalam Lorraine Gesick. Pusat, Simbol,
dan Hirarki Kekuasaan: Esai-esai tentang Negara Klasik
di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
De Graaf, H. J. 1985. Awal Kebangkitan Mataram.Jakarta:
Grafitipers.
De Graaf, H. J. & Th. G. Th. Pigeaud. 1985. Kerajaankerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke
Mataram.Jakarta:Grafitipers.
Gottschalk, Louis. 1983. Mengerti Sejarah. Terjemahan
Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI-Press.
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Multidimensi Pembangunan
Bangsa: Etos Nasionalisme dan Negara Kesatuan.
Yogyakarta: Kanisius.
Kluckhohn, F. & F.L. Strodtbeck. 1961. Variations in Value
Orientation. Evanston, Ill: Row, Peterson & Company.
Koentjaraningrat. 1987. “Orientasi Nilai Budaya dalam
Kebudayaan Nasional Indonesia,” Kompas,11Maret.
————-. 1990. Sejarah Teori Antropologi II.Jakarta:UIPress.
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta:
Bentang Budaya.
Legg, Keith R. 1983. Tuan, Hamba, dan Politisi.Jakarta:
Sinar Harapan.
Nas, Peter J.M. 2007. Kota-kota Indonesia: Bunga Rampai.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Notosusanto, Nugroho. 1978. Masalah Penelitian Sejarah
Kontemporer.Jakarta:Idayu.
Van Peursen, C.A. 1990. Fakta, Nilai, Peristiwa. tentang
Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Etika.Jakarta:
Gramedia.
167
Fly UP